fbpx

Kebutuhan Air Tanaman Untuk Penjadwalan Irigasi Pada Tanaman Jeruk Keprok 55 Di Desa Selorejo Menggunakan Cropwat 8.0

tanaman jeruk keprok

Oleh: Liliya Dewi Susanawati dan Bambang Suharto
Jurusan Keteknikan Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Abstrak

Jeruk Keprok 55 (Citrus reticulate) merupakan salah satu komoditas holtikultura yang mendapatkan prioritas untuk dikembangkan terutama di wilayah Kota Batu, Malang.

Kendala utama yang dihadapi petani Jeruk Keprok 55 adalah masalah ketersediaan air. Kebutuhan air tanaman hanya mengandalkan suplai dari curah hujan yang tidak menentu, khususnya di daerah Selorejo.

Oleh karena itu, pengelolaan irigasi yang tepat sangat dibutuhkan yang salah satunya dapat dilakukan dengan merencanakan secara mendetail kebutuhan air tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan dan menghitung kebutuhan air tanaman dengan menggunakan software Cropwat 8.0 dan mengevaluasi hasil perhitungan dengan kondisi aktual di lapangan.

Penelitian dilaksanakan pada Lahan Jeruk di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif serta pengolahan data menggunakan software Cropwat 8.0.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total Evapotranspirasi tanaman (ETc) selama masa pertumbuhan adalah 971,90 mm dengan evapotranspirasi aktual tanaman tertinggi dicapai pada bulan Oktober periode ketiga sebesar 34,80 mm dan terendah pada Februari periode ketiga sebesar 19,70 mm.

Hasil perhitungan software Cropwat 8.0 dapat digunakan dalam penentuan awal tanam dan rencana jumlah kebutuhan irigasi.

Namun demikian, pengoperasian harian perlu tetap dilakukan berdasarkan pengamatan kondisi tanaman dan hujan aktual untuk mempertahankan kadar air tanah berada pada rentang yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kebutuhan air tanaman jeruk keprok 55 dipengaruhi oleh kondisi iklim dan koefisien tanaman yang berubah setiap fasenya.

Evapotranspirasi tanaman (ETc) dengan menggunakan software Cropwat 8.0 selama masa pertumbuhan adalah 971,90 mm dengan evapotranspirasi aktual tanaman tertinggi dicapai pada bulan Oktober periode ketiga sebesar 34,80 mm dan terendah pada Februari periode ketiga sebesar 19,70 mm.

Hasil ini cukup sesuai dengan kondisi di lapangan untuk merencanakan awal musim tanam.

Namun demikian, pengoperasian irigasi harian perlu tetap dilakukan berdasarkan pengamatan kondisi aktual di lapangan untuk mempertahankan kadar air tanah berada pada rentang yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman.

Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk meningkatkan produktifitas buah setelah penerapan irigasi curah (sprinkle irrigation).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on email