fbpx

Empowering Agricultural Knowledge and Technology

Butuh alat untuk penelitian?  Klik  Produk Labodia Prima

Empowering Agricultural Knowledge and Technology

Butuh alat penelitian?  Klik  Produk Labodia

Empowering Agricultural Knowledge and Technology

Butuh alat penelitian?  Klik  Produk Labodia

Empowering Agricultural Knowledge and Technology

Butuh alat?  Klik Produk Labodia

Kapasitas Lapang dan Titik Layu Tanaman

Kapasitas Lapang dan Titik Layu Pada Tanaman

Penyerapan air oleh tanaman sangat tergantung dari kondisi air pada tanah tersebut. Selain itu karakteristik tanah juga dapat mempengaruhi akar dalam melakukan penyerapan air.

Dalam memahami hubungan kadar air pada tanah dan tanaman, peneliti mendefinisikan batas – batas ketersediaan air ditanah dengan istilah kapasitas lapang dan titik layu.  

Kapasitas Lapang/Field Capacity (FC)

Pada tanah setelah hujan atau dilakukan irigasi, air akan bergerak ke dalam tanah melalui drainase tanah.

Setelah beberapa waktu nilai kadar air dalam tanah akan menunjukan angka yang konsisten, keadaan air seperti itulah yang disebut kapasitas lapang.

Konsep mengenai kapasitas lapang dikembangkan oleh peneliti ketika mengamati terdapat titik dimana air bergerak perlahan setelah hujan ataupun irigasi (Taylor dan Ashcroft, 1972).

Kapasitas lapang diestimasi pada potensial air tanah -0.033 MPa atau -33kPa.

Kapasitas lapang tidak sama dengan tanah jenuh, pada kondisi tanah jenuh pori-pori tanaman dipenuhi sepenuhnya oleh air. Pada kondisi kapasitas lapang, ruang diantara pori-pori tanah terdapat air dan udara.

Kapasitas lapang sangat ditentukan oleh struktur dan tekstur dari tanah, tanah yang memiliki pori lebih besar maka kapasitas lapangnya akan lebih kecil dari pada tanah yang memiliki struktur pori lebih kecil.  

Titik Layu/Wilting Point (WP)

Definisi dari titik layu permanen adalah kondisi kandungan air tanah dimana tanaman tidak lagi dapat menyerap air sepenuhnya kemudian tanaman layu dan pada akhirnya mati, karena tidak mampu lagi mengembalikan fungsi turgor dan aktivitas biologisnya.

Titik layu permanen biasanya diestimasi pada kadar air pada potensial air -1.5 MPa atau -1500 kPa atau -15 bar (Kirkham, 2004).

Tanah pada titik layu permanen tidak dalam kondisi kering seutuhnya. Ketika kadar air tanah di bawah titik layu permanen, air masih tersedia dalam tanah, tetapi akar tanaman tidak dapat menghisapnya.

Selisih antara kapasitas lapang dan titik layu adalah definisi dari kadar air yang tersedia untuk tanaman.

Sebagian besar tanaman akan mengalami penurunan produksi panen jika tanah dibiarkan mengering sampai ke titik layu permanen.

Untuk memaksimalkan hasil panen, kadar air tanah harus dipertahankan antara kapasitas lapang dan titik layu permanen.

Dengan beberapa pengetahuan dasar tentang jenis tanah, kapasitas lapangan dan titik layu permanen dapat diperkirakan dari pengukuran yang dilakukan menggunakan sensor kelembaban tanah.

Dengan melakukan pemantauan kadar air tanah, keputusan untuk pengelolaan irigasi dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil panen dan efisiensi penggunaan air.

 

Laju Infiltrasi pada Tanah

 

Daftar Pustaka

Kirkham M. B., 2004. Principles of Soil and Plant Water Relations. Kansas State University. Throckmorton Plant Science Center, Manhattan

Taylor, S.A., Ashcroft, G.L., 1972. Physical Edaphology: The Physics of Irrigated and Non-irrigated Soils. W.H. Freeman, San Francisco.

Facebook
Twitter
LinkedIn

Related: